Perlindungan Kemasan Kayu dengan Sistem Imunisasi

Produk kemasan kayu banyak dipergunakan dalam perdagangan internasional. Karena menggunakan bahan dasar kayu, produk kemasan kayu sangat berpotensi membawa berbagai macam hama dan penyakit tumbuhan. Untuk mengantisipasi hal itu, sejak tahun 2004 The International Plant Protection Convention (IPPC) telah menetapkan Standard ISPM #15 (International Standard Phytosanitary Measure #15), yaitu peraturan tentang standar internasional kesehatan tumbuhan terhadap produk kemasan kayu, guna mencegah terjadinya reinfestasi OPT. Beberapa metode yang diterapkan adalah (1) Fumigasi (MB), menggunakan gas Methyl Bromide; dan (2) Heat Treatment (HT) dengan pencapaian suhu inti kayu minimum 56°C selama 30 Menit.

Pemerintah telah menerapkan ISPM #15 melalui peraturan menteri pertanian no. 12 tahun 2009 tentang Persyaratan dan Tata Cara Tindakan Karantina Tumbuhan Terhadap Pemasukan Kemasan Kayu Ke dalam Wilayah Negara Republik Indonesia. Sayangnya, penerapan perlakuan tersebut mengadopsi 100% metode ISPM #15 tanpa memperdulikan fakta bahwa standar internasional tersebut dibuat sesuai kondisi dan situasi negara-negara eropa yang sangat berbeda dengan indonesia. Negara-negara di Eropa mengenal empat musim yang berbeda, hanya menggunakan satu jenis kayu (Pine wood) sebagai bahan baku produk kemasan kayu, serta memiliki tingkat kelembaban dan suhu rendah dan type Perusahaan Kemasan Kayu yang sangat berbeda dengan Indonesia.
Letak geografis Indonesia yang berada diantara dua benua, Negara kepulauan terbesar di dunia, sampai adanya 3 zona waktu yang berbeda dalam 1 negara, kekayaan keaneka ragaman hayati termasuk serangga yang merugikan/berpotensi sebagai OPT, juga adanya bermacam-macam jenis Kayu yang dipergunakan sebagai bahan Kemasan Kayu.

Secara umum, kondisi di Indonesia jauh lebih ekstrim jika dibandingkan dengan eropa. Investasi sumber daya infrastruktur yang dibutuhkan terlalu besar untuk menerapkan standard perlakuan Heat Treatment (HT) terutama di daerah-daerah memang hanya sedikit sekali menggunakan Kemasan Kayu dalam perdagangan Export dan juga mengenai Fumigasi Methyl Bromide (MB) sesuai ISPM #15 berdampak pada kerusakan lapisan Ozon. Selain permasalahan tersebut, kebutuhan Kemasan Kayu seperti Pallet dalam Perdagangan di Indonesia saat ini lebih dari 95% masih disuply oleh Non Manufacture Wood Packaging (NMWP). NMWP disuplai oleh unit usaha kecil menengah (UKM) yang terdiri dari pengrajin kemasan kayu/pallet tradisional yang menggunakan fresh cut (kayu yang baru dipotong/basah/segar) untuk dijadikan langsung produk kemasan kayu, sehingga kadar airnya (moisture containt) sangat tinggi dengan rata-rata > 80%. Selain itu peralatan kerja dan sumber daya manusia yang dimiliki masih sangat terbatas, sehingga sulit menerapkan metode treatment sesuai standar ISPM #15. Padahal, eksistensi NMWP tersebut sudah ada sebelum tahun 2004, di mana ISPM #15 mulai diimplementasikan oleh IPPC dalam perdagangan internasional, dan juga yang tidak kalah penting jumlah perbandingan Kemasan Kayu yang dihasilkan oleh NMWP jauh lebih besar jumlahnya dari pada yang dihasilkan oleh Provider yang telah diregistrasi oleh BARANTAN.

Berdasarkan data saat ini jumlah Provider yang telah ditegistrasi oleh BARANTAN sekitar 104, itupun sudah ada yang dicabut Izinnya dan juda ada Provider dalam kondisi suspend/dibekukan. Perkiraan yang masih aktif tidak lebih dari 50% saja yaitu sekitar 50 an saja.

Signifikansi Perlindungan Produk Kemasan Kayu dan Problematika Adopsi Literal ISPM #15 di Indonesia

Melihat problematika dan tantangan yang dikemukakan di atas, tanggung jawab Badan Karantina Pertanian (BARANTAN)/NPPO menjadi semakin besar terhadap IPPC, Lingkungan dan dunia internasional, untuk mengendalikan serta menjamin setiap kemasan kayu terbebas dari serangan (reinfestasi) Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

Sampai saat ini Penerapan ISPM #15 di lapangan terhadap NMWP maupun kemasan kayu banyak menemui kendala di lapangan, sehingga permasalahan-permasalahan yang timbul mengakibatkan dampak yang sangat merugikan bagi semua pihak. Pihak Otoritas Kompeten, dalam hal ini BARANTAN/NPPO, akan kehilangan kepercayaan dari IPPC maupun dunia internasional, dan pada akhirnya produk dari indonesia tidak bisa masuk ke pasar internasional. Tentunya, hal ini akan menurunkan volume ekspor dan pendapatan devisa negara yang jumlahnya tidak sedikit.

Beberapa kelemahan yang terjadi selama ini di Indonesia, dan menjadi kendala penerapan sistem treatment ISPM #15 terhadap produk kemasan kayu yang dihasilkan oleh NMWP adalah sebagai berikut:

1.  Penerapan Fumigasi menggunakan methyl bromide (MB), memiliki kelemahan, antara lain:

  1. Tidak adanya jaminan bahwa kemasan kayu yang difumigasi memiliki kadar air < 30%.
  2. Tidak adanya jaminan bahwa perusahaan fumigasi yang melakukan perlakuan ISPM #15 terhadap Kemasan Kayu adalah Perusahaan Fumigasi AFASID/Standar BARANTAN.
  3. Waktu yang dipergunakan tidak efisien, karena perlu 24 Jam.
  4. Tidak adanya jaminan Perusahaan Fumigasi AFASID/Standar BARANTAN tersedia di setiap wilayah   Indonesia, dan kalaupun ada jaraknya masih jauh sehingga pelaksanaanya menjadi biaya tinggi.
  5. Banyak proses Fumigasi yang dilaksanakan Non Standar BARANTAN, dikarenakan terbentur masalah waktu   dan tekanan biaya oleh Pelanggan, serta persaingan yang tidak sehat antar Perusahaan Fumigasi.
  6. Berdasarkan Protokol Montreal, bahwasanya bahan MB merusak ozon dan tidak ramah lingkungan, sehingga   tidak lagi digunakan pada masa mendatang.
  7. Desakan dari Negara-Negara Maju semakin besar untuk penghapusan pemakaian MB (Methyl Bromide).

2.  Penerapan Heat Treament (HT) juga memiliki kendala yang cukup signifikan, antara lain:

  1. Kemasan Kayu berbahan Fresh Cut memiliki kadar air (MC) yang masih tinggi, rata-rata > 70%, sehingga tidak bisa langsung dilakukan proses HT karena Kemasan bisa rusak, pecah, melengkung, bengkok, retak, dan keriput.
  2. Waktu yang diperlukan lama sekitar 4-5 hari untuk papan dan 8-10 hari untuk Balok.
  3. Untuk provider kemasan kayu dengan volume produksi kecil (NMWP), perlakuan sistem HT sangat boros biaya karena mengkonsumsi energi yang sangat besar. Akibatnya, disamping beban investasi yang tinggi juga tidak ramah lingkungan.
  4. Fasilitas HT atau Sumber Daya Infrastuktur belum tersedia secara merata di seluruh Wilayah Indonesia. Hal ini disebabkan kurangnya jaminan  tersediannya Pasokan Sumber Daya Energi/Listrik di Seluruh Wilayah Indonesia.
  5. Tidak ada jaminan Perlakuan HT mengunakan Fasilitas Kiln Dry (KD), telah diuji Kelayakannya oleh BARANTAN.
  6. Sasaran Mutu yang dicapai untuk MC  ≤20% hanya bisa dilakukan pada bahan baku kayu (sawn timber) bukan untuk produk Kemasan Kayu.

Setelah sistem ISPM #15 ini berjalan hampir 5 tahun, sudah waktunya dipikirkan suatu metode yang benar-benar sesuai dengan kondisi & situasi di Indonesia, baik iklim; kelembaban; lingkungan, jenis bahan baku maupun profil perusahaan kemasan kayu tersebut. Selama ini, kemasan kayu yang akan diregistrasi oleh Provider ISPM #15 berasal dari beberapa sumber, antara lain:

1.    Perusahaan Kemasan Kayu yang sudah/belum diregistrasi oleh BARANTAN.
2.    Non Manufacture Wood Packaging (NMWP)/Pengrajin Tradisional (UKM).
3.    Pelanggan Provider ISPM #15 itu sendiri (Exportir).

Disamping itu, penelitian dan pengembangan terhadap bahan-bahan serta metode aplikasi perlindungan produk kemasan kayu yang ramah lingkungan; pengurangan zat yang berperan dalam perusakan lapisan ozon (DPO) di atmosfer, harus segera dilakukan.
Standar treatment/perlakuan harus dimodifikasi dan direvisi, karena penerapan literal atau 100% ISPM #15 di Indonesia terbukti menemui banyak kendala, terutama terhadap kemasan kayu yang berasal dari NMWP dan Perusahaan Kemasan Kayu yang belum terregister ISPM #15 maupun Eksportir. Hal yang terpenting adalah bahwa modifikasi treatment/perlakuan tersebut tidak boleh keluar dari peraturan IPPC Annex 1, tentang persetujuan metode fumigasi (MB), Heat Treatment (HT) dan Alternatif Treatment, serta harus menjamin dan mengendalikan terhadap setiap Kemasan Kayu dari serangan reinfestasi OPT. Bahan serta modifikasi metode tersebut  harus melewati beberapa kriteria, antara lain:

  1. Bahan yang dipergunakan harus ramah Lingkungan dengan cara membuat perpaduan/campuran antara bahan Kimia atau Organik.
  2. Jika menggunakan bahan Kimia, maka bahan yang digunakan telah mendapatkan pengakuan dari NPPO di negara terkait/lainnya.
  3. Metode tersebut mudah dilaksanakan, sehingga lokasi NMWP/Eksportir/Perusahaan Kemasan Kayu belum ter-registrassi di pelosok-pelosok dapat dijangkau oleh Pelaksana Treatment/Aplikator, dan tidak menimbulkan biaya tinggi.
  4. Waktu yang dipergunakan harus efisien, sehingga bisa mengejar target pengiriman/produk ke pelabuhan atau airport.
  5. Tidak boros Energi sehingga energy bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lain yang lebih penting .
  6. Bersifat easy mobile, mudah dipindah dan dipergunakan.
  7. Telah dipresentasikan & dipertanggung jawabkan kepada NPPO sebagai Otoritas Kompeten.
  8. Sudah diuji oleh Lembaga/Instansi yang berkompeten dalam hal pengawetan Kayu/Hama Perusak Kayu/Organisme Penganggu Tumbuhan.
  9. Murah sehingga Mandatory terhadap Kemasan Kayu tidak menjadi Barier dalam Pelaksanaan ISPM #15 terhadap Perdagangan Kemasan Kayu Export/Import.

Perlindungan Kemasan Kayu dengan Metode SPIT® (Semi Permanent Imunization Treatment®)

PT. Karuna Sumber Jaya menawarkan suatu konsep Pengendalian terhadap setiap Kemasan Kayu dari reinfestasi atau serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan serta jaminan terhadap Produk tersebut. Cara yang ditawarkan adalah Perlindungan Kemasan Kayu dengan Sistem Imunisasi dan Kadaluarsa dengan metode Semi Permanent  Imunization  Treatment (SPIT®). Dalam penelitian dan pengembangannya, PT. Karuna Sumber Jaya bekerjasama secara intensif dengan Laboratorium Pengendalian Serangga Hama dan Biodegradasi, UPT. Balai Litbang Biomaterial LIPI. Adapun proses perlakuan/treatment melalui beberapa tahapan-tahapan yang harus dilaksanakan dengan baik dan benar, sebagai berikut:

1.  Pengendalian Kualitas (Q.C)

Pemeriksaan terhadap Kemasan Kayu meliputi seluruh bagian produk hingga bagian partikular, bebas kulit kayu, aspek fisik dan estetikanya.

2.  Make Up (M.U.)

Proses M.U. ini menekankan pada aspek upgrading performance sehingga produk kemasan kayu menjadi lebih bagus, bersih dan rapi, serta memenuhi kualitas kemasan kayu standar BARANTAN.

3. Sistem perlakuan/treatment menggunakan larutan disinfektan/imunisasi aplikasi PT. Karuna Sumber Jaya, yaitu Senyawa L8D.

Penyemprotan dilakukan secara menyeluruh sebanyak 4 kali dengan Interval minimum 20 menit supaya Larutan dapat terserap sempurna pada setiap bagian Kemasan Kayu, sehingga mampu melindungi Kemasan Kayu dari serangan reinfestasi OPT/ terimunisasi. Adapun bahan aktif L8D™ yang digunakan adalah hasil kerja sama penelitian dengan laboratorium pengendalian serangga hama dan biodegradasi, UPT. Balai Litbang Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Bahan aktif L8D™ tersusun dari Copper Chromate Complex 0,2%; Natural Extractives compound 0,2% dan Cypermethrin 0,4%. Bahan aktif tersebut telah melewati uji efikasi terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan; Uji Toksisitas Bahan disinfektan; Tingkat Penetrasi Bahan terhadap produk kemasan kayu; serta Analisa kandungan residual bahan untuk mengukur masa aktif bahan dalam produk guna melindungi produk kemasan kayu; menanggulangi OPT yang terdapat pada kemasan kayu, serta mencegah pencemaran lingkungan setelah produk kemasan selesai digunakan. Hasil penelitian dipaparkan pada resume sebagai berikut

Tabel 1. Hasil Uji efikasi Bahan L8D™ Terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

No.

Organisme Pengganggu Tumbuhan

Standar Uji

Justifikasi

1.

Coptotermes gestroi

Japan Industrial Standard
(JIS) K 1571: 2004

Memenuhi Kriteria

2.

Cryptotermes cynocephalus Light

Standar Nasional Indonesia
SNI 01-7207-2006

Memenuhi Kriteria

3.

Heterobostrychus aequalis

Standar Nasional Indonesia
SNI 01-7207-2006

Memenuhi Kriteria

4.

Brown Rot dan White Rot Fungi

Japan Industrial Standard
(JIS) K 1571: 2004

Memenuhi Kriteria

Tabel 2. Hasil Karakterisasi sifat fisika-kimia Bahan L8D™

No.

Jenis Uji

Metode Analisa

Justifikasi

1.

Toksisitas Bahan

Toksisitas Oral

Pengujian secara oral dengan dosis maksimal 5000 mg/kg Berat Badan, tidak terjadi kematian pada tikus percobaan/perlakuan. Semua tikus perlakuan dieuthanasi dan dilakukan nekropsi pada hari ke-14 perlakuan untuk diamati perubahan makroskopis (patologi anatomi) yang terjadi pada organ visceral, sehingga masuk kategori bahan tidak berbahaya, jika digunakan sesuai dengan anjuran, yaitu kelas IV (WHO, 2003).

Toksisitas Dermal

Pada perlakuan dermal dengan dosis maksimal 2000 mg/kg BB tidak terjadi kematian pada tikus perlakuan dan tidak menimbulkan perubahan patologi anatomi pada organ visceral setelah 14 hari perlakuan, sehingga masuk kategori bahan tidak berbahaya, jika digunakan sesuai dengan anjuran, yaitu kelas IV (WHO, 2003).

2.

Penetrasi Bahan Aktif dalam Produk Kemasan Kayu

Spraying

Sistem uji disesuaikan dengan kondisi riil bahan baku di lapangan. Kadar air (MC) bahan baku diukur, sebesar 85,82%. Selanjutnya sistem spraying dilakukan pada bahan baku jenis log dan sawn timber dari jenis kayu yang biasa dipergunakan sebagai bahan kemasan kayu di indonesia. Pengukuran penetrasi bahan mampu menjangkau pori pori kayu, lapisan kulit yang terkelupas, serta bagian pin hole (bekas infestasi OPT). Sehingga telur yang terdapat pada pinhole pasti mati/musnah.

3.

Kandungan Residual Bahan Aktif dalam Produk Kemasan Kayu

Instrumentasi Kimia
(Atomic Absorbtion Spectrophotometry; Gas Chromatography -Mass Spechtrometry)

Dari Pengujian kandungan residu Bahan pada minggu keempat pasca penyemprotan, didapatkan hasil penurunan yang cukup signifikan, di mana komposisi kandungan anorganik (copper chromate complex) pada kisaran 35%, komposisi ektraktif bahan alam (natural extractives compounds) di atas 80% dan komposisi cypermetrin sebesar 17,22%. Secara umum, kandungan residual bahan penyusun bahan masih di bawah ambang batas maksimal yang diperkenankan, sehingga tidak berpotensi bahaya bagi lingkungan

Adapun bahan aktif Kimia yang dipergunakan telah mendapatkan Pengangkuan dari NPPO Internasional antara lain oleh AQIS, Australian Hazard Code: 3XE sehingga keamanan dan kegunaanya dapat dipertanggung jawabkan.

4.  Pemberian Logo/Marking

Pemberian logo didasarkan pada jumlah order dari Pelanggan. Hal ini dilakukan agar Operator Gudang di Pelanggan dapat mengendalikan setiap Kemasan Kayu, sehingga mampu diidentifikasi kemasan kayu (Pallet) yang baru datang dan Pallet yang belakangan datang (FI-FO, warehouse management system). Dengan demikian, control Expiry Date atau Kadaluarsa sampai proses Stuffing dapat dikendalikan, dipertanggungjawabkan serta memberikan jaminan ketahanan dari serangan reinfestasi OPT terhadap setiap Kemasan Kayu yang akan dipergunakan.

5.  Clean Container & Spraying pada Container Kosong sebelum Stuffing

Sebelum komoditas dimasukan ke dalam Container (Stuffing) dilaksanakan pengendalian terhadap alat angkut. Lantai Container disapu dengan menggunakan Sapu Plastik. Sapu tidak boleh terbuat dari Sabut kelapa, Ijuk, Jerami maupun bahan-bahan pertanian lainnya karena justru bisa sebagai pembawa serangga atau OPT. Kemudian dilakukan penyemprotan Larutan L8D™ pada kontainer kosong. Sebagai bentuk pengendalian serta jaminan bahwasanya alat angkut sudah terbebas dari serangan reinfestasi OPT.

6.  Penerbitan Sertifikat Semi Permanent Immunization Treatment (SPIT®).

Setelah proses stuffing dan pengapalan selesai, diterbitkan Packing Declaratioan-PD (apabila Marking nya menggunakan ISPM #15), SPIT® Sertifikat (apabila hanya dilakukan Marking SPIT® saja). Pemberian sertifikat ini sebagai bentuk jaminan kualitas kemasan Kayu, yang dipergunakan jika Comoditas sampai di negara tujuan, dan dilakukan pemeriksaan oleh Karantina setempat. Untuk Exportir PD/SPIT Sertifikat  berguna jika dilakukann Audit. Untuk Pelaksana Perlakuan/Inspection PD-SPIT berguna sebagai alat untuk  menelusuri atau menginvestivigasi apabila terjadi klaim dikemudian hari, dan juga berguna ketika dilakukan pemeriksaan dari pihak Otoritas Kompeten di Indonesia.

logo-ksj2013